MAKALAH
INTERPERSONAL SKILL KOMUNIKASI VERBAL
Diajukan sebagai syarat memenuhi tugas kelompok
Dosen pembibmbing :Haryo Setyaka, SE, MM
Disusun oleh :
1. AGUNG FIRMANSYAH
(1215017)
2. AINI
(1215023)
3. ANDARIP
(1215029)
4. DIANSYAH
RIFA’I (1215048)
5. DIDI TARMADI
6. DWI RIYADI
BAB I PENDAHULUAN
A.
Kata Pengantar
Masyarakat merupakan suatu kelompok besar yang hidup dalam
suatu lingkungan. Dalam kehidupannya, masyarakat harus saling membutuhkan guna
memenuhi kebutuhan kehidupan mereka. Dalam proses tersebut individu-individu
ataupun kelompok-kelompok harus melakukan interaksi.
Manusia saling berinteraksi memerlukan suatu kontak dan akan
dilanjutkan komunikasi untuk mencapai interaksi sempurna. Dalam topik
komunikasi tersebut, komunikasi dapat digolongkan dua bagian dalam
penyampaiannya. Dalam melakukan komunikasi tersebut bisa dilakukan dengan garis
besar yaitu komunikasi verbal dan
komunikasi non-verbal.
Dalam makalah ini hal yang dibahas adalah komunikasi verbal.
Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan
maupun tertulis. Melalui komunikasi verbal ini manusia menggunakannya guna
mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau maksud merek,
menyampaikan fakta, data, serta informasi dan menjelaskannya. Dalam komunikasi
verbal itu bahasa memegang peranan penting.
Rumusan
Masalah
1.
Apa definisi tentang komunikasi
verbal?
2.
Apa saja unsur Komunikasi verbal
tersebut?
3.
Apa Teori komunikasi verbal ?
B.
Tujuan
1.
Mengetahui tentang komunkasi verbal.
2.
Mengetahui apa saja unsur &
Faktor komunikasi verbal tersebut.
3.
Mengetahui Teori dari komunikasi verbal.
C.
Manfaat
1.
Memberi tahu tentang apa yang
dimaksud dengan komunkasi verbal.
2.
Memberi tahu tentang bentuk dan teori komunikasi verbal.
3.
Memberi tahu tentang fungsi dari
komunikasi verbal tersebut.
DAFTAR ISI
BAB II PEMBAHASAN
PENGERTIAN
KOMUNIKASI VERBAL
1) Pengertian Secara Umum
Komunikasi verbal adalah
komunikasi yang mengunakan lisan. Komunikasi verbal merupakan bentuk komunikasi
yang sangat efisien yang memberikan kesempatan berlangsungnya penularan
informasi kompleks dari seseorang kepada orang lain. Ada aturan-aturan yang ada
untuk setiap bahasa yaitu fonologi (pengetahuan tentang bunyi-bunyi dalam
bahasa ),Sintaksis (engetahuan tentang cara pembentukan kalimat) semantik (
pengetahuan tentang arti kata atau gabungan kata-kata ).
2)
Pengertian Menurut Pada Ahli
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu
kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Deddy
Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol,
dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan
dipahami suatu komunitas.
Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa
secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat
yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki
bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara
anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa
diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut
peraturan tatabahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata
harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti.
Potter
& Perry (1987) menyatakan bahwa komunikasi verbal termasuk penggunaan
kata-kata atau tulisan. Bahasa yang digunakan seseorang biasanya mengisyaratkan
arti khusus yang kadang hanya dimengerti oleh komunitas tempat individu berada.
Sehingga dengan bahasa yang diucapkan atau dituliskan, kita dapat menebak
seseorang berasal dari komunitas mana.
1.
komunikasi
lisan atau oral communication (berbicara dan mendengar )
2.
komuikasi
tertulis atau written communication (menulis dan membaca)
TEORI-TEORI
KOMUNIKASI VERBAL
pertanyaan mengenai bagaimana kita memperoleh dan menggunakan bahasa
(komunikasi verbal) untuk berkomunikasi telah menjadi bahasan teoritis selama
berabad-abad. Kemampuan kita untuk melakukan
simbolisasi dan
berbicara telah memisahkan kita dari spesies lain yang lebih rendah. Pembahasan
pada Kegiatan Belajar 4 ini berusaha untuk memahami bagaimana dan dengan efek
apa bahasa digunakan. Meskipun demikian, sama seperti komunikasi nonverbal,
terdapat berbagai perspektif mengenai bahasa dan pengaruhnya. Kita akan mulai
dengan suatu pandangan bahwa bahasa secara genetis telah dimiliki oleh manusia
(nature approach). Dengan demikian, kita hanya perlu mempelajari kombinasi
tertentu dari penggunaan kata, yang merefleksikan cara-cara kita menyampaikan
dan menerima pesan.
Pada bagian
berikutnya kita akan masuk pada suatu pendekatan yang mempelajari dampak dari
penggunaan bahasa dalam menciptakan realitas, yaitu bagaimana kita `memberi
label' atau 'atribut' pada dunia kita dan bagaimana 'label' tersebut
menghasilkan `realitas' (narture approach). Kita kemudian akan beralih kepada
pandangan fungsional yang mencoba menjawab pertanyaan: mengapa kita bereaksi
terhadap bahasa, seolah-olah kata adalah benda yang direpresentasikannya? Pada
bagian akhir kita akan mendiskusikan suatu pendekatan yang berorientasi pada
pesan dalam bahasa, dan membahas proses berpikir yang berkaitan dengan bahasa
yang mendahului aktivitas transmisi pesan.
Seorang ahli yang menaruh perhatian pada
bagaimana orang memperoleh bahasa adalah Noam Chomsky yang memandang
pembelajaran bahasa sebagai suatu fungsi biologis, sama seperti cara Darwin
memandang komunikasi nonverbal. Teori Chomsky yang disebut `struktur dalam'
(deep structure) mengasumsikan bahwa suatu tata bahasa atau struktur bawaan (innategrammar)
yang ada pads diri manusia sejak dia lahir merupakan landasan bagi semua
bahasa. Teori ini mencakup suatu pendekatan umum yang universal. Dengan
mendasarkan pada sejumlah besar penelitiannya,Chomsky mengidentifikasi adanya
tiga struktur dalam semua bahasa. Pertama, adanya hubungan antara subjek-predikat.
Apa pun subjeknya,predikat akan selalu menunjukkan tindakan apa yang dilakukan
oleh subjek.Demikian pula sebaliknya, apa pun predikatnya, subjek akan selalu
menunjukkan apa atau siapa yang melakukan tindakan tersebut. Misalnya 'orang
makan', `gajah makan', 'monyet makan', kesemuanya menunjukkan bahwa subjek
sedang melakukan tindakan tertentu, yaitu makan. Sementara dari visi predikat
`orang lari', `orang bermain', `orang makan', menunjukkan bahwa `orang' yang
melakukan tindakan, apa pun bentuknya. Kedua, hubungan antara kata kerja (verb)
dengan objek yang mengekspresikan hubungan logis sebab dan akibat. Hubungan ini
menunjukkan kepada siapa atau untuk apa suatu tindakan dilakukan. Misalnya
`orang memakai topi',`orang memakai jas',`orang memakai kaos', kesemuanya
menunjukkan bahwa objek (apa pun jenisnya) dipakai oleh orang tersebut. Ketiga,
modifikasi,' yang menunjukkan adanya pertautan kelas (intersection of classes).
Misalnya orang memakai `topi hitam', 'orang memakai topi kuning,'orang memakai
topi putih', di mana kesemuanya menunjuk adanya pertautan (intersection) antara
topi dan warna tertentu. Dengan demikian, Chomsky beranggapan bahwa manusia
dilahirkan dengan membawa kemampuan alamiah untuk berbahasa. Kita dapat
memformulasikan bentuk-bentuk kombinasi kata tertentu hingga terasa masuk akal.
Namun penjelasan bahwa bahasa dapat dipilah dalam struktur tata bahasa, belum
dapat menjawab bagaimana bahasa mengungkapkan makna. Seorang teoretisi lain,
Dan I. Slobin, mengemukakan bahwa bayi terlahir dengan pemahaman tata bahasa
yang telah terprogram, anak sebenarnya memiliki suatu mekanisme pemrosesan atau
sistem untuk mengorganisasikan informasi linguistik yang diperoleh dari
lingkungan anak tersebut. Slobin mengemukakan bahwa perkembangan kognitif
mendahului perkembangan bahasa. Dengan berbagai bukti ilmiah dia menunjukkan bahwa
anak dari kelompok bahasa yang berbeda, mempelajari bahasa secara berbeda
tergantung pada tingkat kesulitan dari bahasa tersebut. Bahasa yang lebih
kompleks membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mempelajarinya, karena anak
harus membuat sejumlah pengecualian pada prinsip bawaan yang ada dalam setiap
bahasa. Slobin sendiri mengidentifikasi adanya empat prinsip yang bekerja pada
semua bahasa, yaitu: memperhatikan susunan kata,menghindari pengecualian,
menghindari interupsi atau penataan kembali unit-unit bahasa, dan memperhatikan
kata yang ada pada bagian terakhir kalimat.Walau ada perbedaan antara teori
Chomsky dan Slobin, namun pada dasarnya keduanya mendasarkan diri pada prinsip
natural, yang memandang bahwa bahasa diperoleh secara natural. Meskipun
demikian keduanya belum dapat menjawab makna apa yang dikaitkan dengan
penggunaan bahasa tersebut.
Hanya dengan memfokuskan pada makna dari kata (dan bagaimana makna
tersebut mempengaruhi perilaku), aliran general semantics menganggap bahwa
bahasa harus dapat lebih merefleksikan dunia di mana kita hidup. Asumsi yang
mendasari pemikiran general semantik adalah bahwa 'the word is not the thing'.
Kata dianggap sebagai abstraksi dari realitas. Oleh karenanya general semantics
memandang bahwa kata harus sedekat mungkin dengan realitas yang
direfleksikannya. Meskipun demikian mereka menyadari bahwa ini suatu hal yang
sulit, karena ketika kata merupakan suatu konsep yang statis dalam waktu yang
panjang, realitas selalu dalam kondisi yang berubah. Untuk memahami apa yang
menjadi kajian general semantics, kita hares mempelajari sifat-sifat simbol dan
bagaimana kita menggunakannya.
Penggunaan Simbol
Pandangan ini mengasumsikan bahwa seluruh
perilaku manusia berangkat dari penggunaan simbol. Salah seorang ahlinya yang
bemama Alfred Korzybski menganggap adanya ketidaktepatan dalam penggunaan
bahasa sehari-hari kita. Argumentasinya adalah bahwa manusia hidup dalam dua
lingkungan yang berbeda, lingkungan fisik dan lingkungan simbolik. Untuk
memahami hal ini kita dapat menganalogikannya dengan penggunaan peta. Misalnya
kita bertanya kepada teman kita berapa jarak antara Jakarta-Surabaya, dan dia
menjawab: "Menurut peta sekitar 10 cm". Informasi ini hanya memiliki
arti bagi kita jika kita mengetahui skala dari peta tersebut, dan tentunya
skala peta tersebut bukanlah 1:1 Karena jika skalanya serupa itu peta tersebut
akan sama luasnya dengan wilayah yang digambarkannya. Hal serupa berlaku pula
pada kata. Ada satu anekdot untuk mencontohkan hal ini, ketika seorang
pengemudi sampai pada suatu perempatan jalan dan bertanya pada orang
disebelahnya apakah ada kendaraan lain yang akan melintasi jalanan yang akan
diseberanginya, dan orang yang ditanya menjawab `hanya kijang'. Baru setelah
mobil yang mereka tumpangi menyeberang dan ditabrak oleh sebuah Toyota Kijang
yang sedang melaju, arti semantik dari 'kijang' dipahami oleh keduanya.
Kata, dan pada kenyataannya semua jenis simbol, tidak
sama dengan fenomena yang digambarkannya. Menurut Ogden dan Richards simbol
adalah representasi ide dan ide adalah representasi objek. Dan ketiganya
merupakan fenomena yang berbeda. Persoalan menjadi menarik ketika kita berbuat
seolah-olah kata adalah objek yang digambarkannya. Kita tahu bahwa orang yang
takut ular akan ketakutan jika benar-benar melihat seekor ular, namun
kadang-kadang ada orang yang begitu takutnya sehingga denyut nadinya meningkat
ketika mendengar kata ular. Interaksi antara kata, maknanya dan perilaku
manusia inilah yang menjadi perhatian Korzybski ketika dia mengemukakan teori
general semantics. Untuk mempelajari teori ini lebih jauh kita akan membahas
sejumlah konstruk: `silent assumptions'. reaksi dan respons, penggunaan
identitas, waktu dan ruang, multi ordinalitas, orientasi intensional dan
ekstensional, dan tataran-tataran abstraksi.
Silent Assumptions
Dan P Millar dan Frank E. Millar mengemukakan
bahwa makna dari suatu kata tidak terbatas dari yang kita temukan dalam kamus.
Jadi kesalahpahaman semantik terjadi karena kita terlalu sering menggunakan
asumsi secara diam-diam. General semantics menjelaskan bahwa kita memiliki
kecenderungan untuk berurusan dengan objek atau benda pada tataran abstrak.
Misalnya kita tidak berurusan dengan fenomena pada tataran atomis, meskipun
sebenarnya fenomena berubah pada tataran ini. Seperti telah dikemukakan oleh
Korzybski bahwa tataran objektif bukan kata dan tidak dapat dicapai hanya
dengan kata. Untuk dapat mencapai atau memahami tataran objektif, general
semantics mengajarkan kita untuk diam (silent), dan kondisi diam ini
memungkinkan kita untuk merespons kata sebagai manusia daripada bereaksi
terhadapnya sebagaimana yang dilakukan oleh hewan.
Persoalan yang muncul dari silent assumption ini
adalah ketika mengantisipasi apa yang dikatakan oleh orang lain. Oleh karenanya
ketika kita melakukan silent asssumption, kita harus menanyakan pada diri kita
sendiri tiga pertanyaan tentang apa yang sedang dikatakan orang lain, yaitu:
apa yang dimaksudkannya? (apakah yang dimaksudkannya berbeda dengan yang
dikatakannya), bagaimana dia mengetahui hal yang dibicarakannya? (mengacu
kepada sumber informasi), dan mengapa dia mengatakan hal ini kepada saya?
(apakah kita pendengar yang sesuai dan apakah kita merupakan sasaran dari
kata-kata yang kita dengar). Reaksi/Respons Konstruk ini diawali oleh asumsi
bahwa manusia bereaksi seperti yang dilakukan hewan melalui apa yang disebut
respons yang dikondisikan. Orang dapat dengan mudah dipaksa untuk bereaksi pada
slogan, nama, hasrat, dan sebagainya, dalam bentuk yang hampir sama seperti
ketika hewan dikondisikan untuk bereaksi terhadap suatu tanda tertentu.
Misalnya hat ini terlihat pada reaksi pengikut Hitler pada Swastika dan
lambang-lambang lainnya, demikian pula dengan reaksi terhadap simbol AIDS, di
mana banyak dari kita tidak ingin diasosiasikan dengan simbol tersebut.
Korzybski, sebaliknya, menekankan bahwa kita seharusnya tidak meniru binatang.
Respons kita haruslah kondisional, bukan dikondisikan. Artinya respons kits
harus melalui penundaan (delayed) dan modifikasi, bukan otomatis. Untuk
mencapai hat ini kits harus belajar menghindar dari suatu reaksi yang baku
(stereo type) terhadap kelas atau kelompok orang, dan menyadari adanya
perbedaan-perbedaan di antara individu anggota kelompok atau kelas dan
menyesuaikan respons kita.
Identitas
Alasan utama mengapa kita cenderung untuk
bereaksi daripada merespons adalah karena kita melihat kesamaan absolut atau
identitas. Sedikitnya ada tiga alasan bagi kecenderungan ini, yaitu: nama
adalah suatu karakteristik penting dari benda atau objek, keunikan benda atau
objek berada di dalam nama, dan jika suatu benda atau objek tidak memiliki nama
maka is menjadi tidak eksis atau tidak dianggap. Jadi terdapat orang-orang yang
beranggapan bahwa, misalnya, semua "perceraian" memiliki makna yang
sarna atau semua pengertian `demonstrasi' adalah sama, padahal dalam situasi
yang nyaris sama orang atau hat-hat lainnya akan selalu berbeda. Konstruk
tentang identitas berkaitan erat dengan dua konstruk lain dalam teori general
semantics, yaitu: `nonallness' dan 'nonadditivity'. Nonallness berarti bahwa
kita tidak dapat mengatakan segala sesuatunya secara lengkap mengenai semua
hat. Oleh karenanya ketika melihat adanya kesamaan dalam beberapa hat, kita
cenderung untuk mengabaikan perbedaan-perbedaannya. General semantics
merekomendasikan kita untuk menggunakan 'dan sebagainya' untuk memberikan
gambaran bahwa terdapat hal-hal lain yang tidak kita ketahui ketika
mendeskripsikan sesuatu pada saat berbicara. Konstruk nonadditivity kita
lakukan ketika kita menambahkan sesuatu dan hasilnya dapat memiliki arti yang
lain. Misalnya ketika seorang guru berkata kepada guru lainnya: "Bisakah
Anda menerima seorang murid lagi untuk kelas Anda?" Karena tidak ada dua
hat yang sama persis, menerima seorang murid yang sekedar duduk di dalam kelas
adalah berbeda dengan menerima seorang murid yang sangat partisipatif di dalam
kelas. Oleh karenanya menambahkan sesuatu tidak hanya sekedar menghasilkan hat
yang sama dalam jumlah yang lebih besar, seperti yang dikondisikan oleh kata
atau bunyi, melainkan menghasilkan suatu perilaku komunikatif yang berbeda.
Keterikatan pada Waktu dan Ruang
General semantics mengemukakan bahwa segala
sesuatu di dalam lingkungan fisik akan terus-menerus berubah. Kita tidak sama
dengan diri kita sepuluh tahun yang lalu, bahkan juga tidak sama dengan diri
kita sepuluh detik yang lalu, karena set dalam tubuh kita berkembang, mati dan
sebagainya. Hal yang sama juga terjadi pada benda mati, karena molekul akan
selalu berubah atau bergerak. Fenomena ini kita sebut `keterikatan waktu' (time-binding).
Selain itu jugs terjadi `keterikatan ruang' (space-binding). Karena orang
berada dalam. tempat atau ruang yang berbeda, mereka akan mempersepsikan
sesuatu secara berbeda-beda. Contoh yang paling sederhana dari hat ini adalah
sebab-sebab dari terjadinya suatu kecelakaan lalulintas. Dua aspek dalam
dimensi ruang adalah jarak dan posisi relatif. Seperti halnya dengan waktu,
ruang adalah suatu fenomena yang pasif dan penyebab perubahan (catalytic).
Benda atau objek atau hal, harus berada di dalarn suatu ruang, harus memiliki
jarak (dekat atau jauh) dari benda, objek, atau hal lainnya, dan meskipun
memiliki jarak yang sama, mereka harus menempati posisi yang berbeda. Dimensi
ruang mencakup tataran fisik (persepsi dan jarak), tataran psikologis
(perasaan, keadaan, dan sebagainya), dan tataran kultural (norma, nilai)
Multiordinalitas
Multiordinalitas menjelaskan mengenai pernyataan
yang bertingkat-tingkat. Misalnya kita berkata bahwa `kucing belang berlari
lebih cepat daripada kucing hitam'. Lalu kita bergerak pada tataran abstraksi
yang lebih
tinggi dan membuat pernyataan lain mengenai pernyataan ini, seperti
misalnya `itu benar' atau `itu salah' atau `kalau pernyataan itu benar berarti
ada hubungan antara pigmen dengan struktur otot'. Pemyataan-pernyataan ini ada
pada tataran abstrak yang lebih tinggi daripada pernyataan yang pertama, karena
semuanya merupakan pernyataan mengenai pernyataan yang pertama. Jadi kata
'pernyataan' dianggap memiliki multiordinal yang dapat digunakan pada tataran,
atau tingkatan abstraksi yang berbeda, dan makna dari tiap-tiap tatarannya juga
berbeda.
Contoh lain adalah kata 'cinta' Kita dapat
mencintai suatu bangunan, seorang gadis, sebuah lukisan, sebuah teori, sebuah
pertarungan sengit. Semua 'cinta' ini berada pada tataran abstraksi yang sama,
tetapi cinta juga dapat bergerak ke tataran yang lain. Jadi kita dapat
mencintai `kecintaan' kita terhadap seorang gadis, dan sebagainya. Ini adalah
cinta pada tataran kedua, yang berbeda dari cinta pada tataran pertama karena
melibatkan proses psikoneurologis yang berbeda.
Orientasi Intensional dan Ekstensional
Konstruk ini menjelaskan bagaimana orientasi
orang ketika merespons suatu hal. Menurut Irving J. Lee, orientasi
`intensional' didasarkan pada definisi verbal, asosiasi, dan sebagainya, yang
mengabaikan observasi. Jadi seperti ungkapan `bicara dulu, tanpa peduli
bagaimana kenyataannya'.
Orientasi ekstensional didasarkan pada susunan observasi, investigasi,
dan sebagainya, terlebih dahulu sebelum membicarakannya.
Beberapa karakteristik dari orientasi internal
adalah: orang lebih memperhatikan nama dan apa yang dikatakan mengenai suatu
hal daripada kepada kenyataan; orang merespon kata atau pernyataan sebagaimana
merespon objek yang digambarkan oleh kata tersebut; orang tidak merasa yakin
dengan kenyataan yang dihadapinya; dan orang menggunakan pembuktian verbal,
ketimbang fakta yang nyata.
General semantics lebih mendukung orientasi
eksternal, yang artinya merekomendasikan seseorang untuk lebih dulu mencari
faktanya. Oleh karenanya, kata-kata lain yang banyak menandai teori ini adalah
seperti `observasi', `keingintahuan' `pengungkapan', `penelitian', dan
'pengujian'
Jesse G. Delia dan Ruth Anne Clark mengemukakan
suatu teori yang dikenal sebagai Konstruktivisme. Teori ini menaruh perhatian
pada proses berpikir yang terjadi sebelum pesan dikemukakan dalam suatu
tindakan komunikasi. Mereka menyebut proses berpikir ini sebagai `kognisi
sosial'. Analisis mereka telah membawa kepada usaha untuk memahami bagaimana
orang menyusun dan mengubah suatu `impresi/kesan' pada orang lain, dan
bagaimana kesan digunakan untuk menyusun strategi pesan serta bagaimana orang
merasionalisasikan strategi tersebut.
Beberapa prinsip penting dari teori mereka
adalah, konstruksi episodik dan disposisi seseorang diorganisasi oleh skemata
interpersonalnya. Skemataskemata interpersonal ini adalah kognisi atau
pemikiran mengenai bagaimana kita berpikir (menganggap atau memperkirakan)
mengenai apa yang akan dilakukan oleh orang lain. Skemata-skemata interpersonal
ini diorganisasi ke dalam semacam sistem (skema), dan pola-pola dalam sistem
ini mencakup interpretasi dan penyimpulan, serta pola-pola 'konstruksi' yang
kita gunakan untuk menjelaskan perilaku orang lain.
Prinsip kedua adalah, organisasi kesan
interpersonal memberikan pemahaman dan antisipasi atas orang lain secara
kontekstual dan relevan. Dalam hal ini orang bertindak seolah-olah sebagai
psikolog-sosial yang mencoba menggunakan suatu pola konsepsional untuk
menjelaskan, memahami, dan memperkirakan perilaku orang lain di dalam berbagai
konteks.
Prinsip ketiga, variasi sistematis dalam konstruk
dan skemata interpersonal yang berkembang sebagai suatu fungsi pengalaman
sosial, memberikan perbedaan kapasitas untuk membentuk kesan-kesan yang
terorganisasikan dan stabil dalam waktu dan konteks yang berbeda. Jadi, orang
yang lebih banyak memiliki pilihan dalam menilai orang lain, dan lebih abstrak
pemikiran konstruksi interpersonalnya, cenderung lebih mampu memformulasikan
pandangan yang terorganisasi mengenai orang lain. Misalnya, dalam berinteraksi
dengan orang yang tidak kita sukai, maka pemikiran kita mengenai orang tersebut
diwarnai oleh perasaan kita mengenai orang-orang lainnya yang tidak kita sukai.
Jadi, kita dapat menilai orang lain sebagai buruk/jahat hanya karena satu atau
dua sebab, atau kita mungkin telah memiliki sebelumnya rasa tidak suka pada
orang tersebut yang didasarkan atas variasi kognisi ita. Dalam waktu yang lama
sepanjang tidak ada kognisi lain yang menandingi, kesan kita terhadap orang
tersebut akan stabil, dan kita cenderung untuk memahami dan memprediksi
perilakunya berdasarkan kesan tersebut. Dari penjelasannya tersebut, Delia dan
Clark telah mengemukakan bahwa bahasa digunakan untuk menilai apa yang akan
dirasakan oleh orang lain terhadap suatu pecan yang disampaikan kepadanya,
sebelum pesan itu sendiri sepenuhnya disusun. Oleh karenanya, individu dengan
kecakapan bahasa yang lebih baik akan mampu menyusun pesan secara lebih tepat
dan jelas kepada berbagai jenis orang dalam berbagai situasi spesifik.
UNSUR
KOMUNIKASI VERBAL
Potter
dan Perry (1987) mengidentifikasi bahwa komunikasi verbal sangat dipengaruhi
beberapa faktor yaitu denotative and connotative meaning (kemaknaan), vocabulary (perbendaharaan kata), pacing (kecepatan), intonation (nada suara), clarity
dan brevity (kejelasan dan
keringkasan), dan timing and relevance (waktu dan relevansi).
Kemaknaan dari kata, kalimat, atau bahasa yang digunakan seseorang menjadi hal
yang sangat relevan untuk dikaji dan dimengerti oleh orang yang sedang
melakukan proses komunikasi verbal. Sebab bisa jadi satu kata akan mengandung
beribu makna. Ada beberapa unsur penting dalam
komunikasi verbal, yaitu:
A. Bahasa
Pada dasarnya bahasa adalah suatu
system lambang yang memungkinkan orang berbagi makna. Dalam komunikasi verbal,
lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa verbal entah lisan, tertulis
pada kertas, ataupun elektronik. Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari
interaksi dan hubungan antara warganya satu sama lain.
Menurut para ahli, ada tiga teori
yang membicarakan sehingga orang bisa memiliki kemampuan berbahasa.
Teori pertama disebut Operant Conditioning yang
dikembangkan oleh seorang ahli psikologi behavioristik yang bernama B. F.
Skinner (1957). Teori ini menekankan unsur rangsangan (stimulus) dan tanggapan
(response) atau lebih dikenal dengan istilah S-R. teori ini menyatakan bahwa
jika satu organism dirangsang oleh stimuli dari luar, orang cenderung akan
member reaksi. Anak-anak mengetahui bahasa karena ia diajar oleh orang tuanya
atau meniru apa yang diucapkan oleh orang lain.
Teori kedua ialah teori kognitif yang dikembangkan oleh
Noam Chomsky. Menurutnya kemampuan berbahasa yang ada pada manusia adalah
pembawaan biologis yang dibawa dari lahir.
Teori ketiga disebut Mediating theory atau teori
penengah. Dikembangkan oleh Charles Osgood. Teori ini menekankan bahwa manusia
dalam mengembangkan kemampuannya berbahasa, tidak saja bereaksi terhadap
rangsangan (stimuli) yang diterima dari luar, tetapi juga dipengaruhi oleh
proses internal yang terjadi dalam dirinya.
B. Kata
Kata merupakan inti lambang terkecil
dalam bahasa. Kata adalah lambang yang melambangkan atau mewakili sesuatu hal,
entah orang, barang, kejadian, atau keadaan. Jadi, kata itu bukan orang,
barang, kejadian, atau keadaan sendiri. Makna kata tidak ada pada pikiran
orang. Tidak ada hubungan langsung antara kata dan hal. Yang berhubungan
langsung hanyalah kata dan pikiran orang.
FUNGSI BAHASA
Bahasa memiliki banyak fungsi, namun sekurang-kurangnya ada
tiga fungsi yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif.
Ketiga fungsi itu adalah:
a. Untuk mempelajari tentang dunia
sekeliling kita
b. Untuk membina hubungan yang baik di
antara sesama manusia
c. Untuk menciptaakan ikatan-ikatan
dalam kehidupan manusia.
Menurut Larry Barke (Mulyana, 234), Bahasa
Memiliki 3 Fungsi Sebagai berikut :
1.
Penamaan (Naming/Labling)
Penamaan merupakan fungsi bahasa yang mendasar. penamaan atau
penjulukan merujuk pada usaha mengidenifikasi objek, tindakan, atau orang
dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam berkomunikasi.
2.
Interaksi
fungsi intraksi menunjukan pada berbagai gagasan dan emosi
yang dapat menggunakan simpati dan pengertian ataupun kemarahan dan
kebingunang.
3.
Transmisi Informasi
Yang dimaksud dengan
fungsi transmisi informasi adalah bahwa bahasa merupakan media untuk
menyampaikan informasi kepada orang lain. bahasa merupakan media transmisi
informasi yang bersifa lintas waktu, artinaya melalui bahasa dapat disampaikan
informasi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, sehingga
memungkinkan adanya kesinambungan budaya tradisi.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI VERBAL
Ada
beberapa Faktor yang mempengarui kelancaran komunikasi verbal yaitu:
1.
Faktor inteligensi
Orang yang inteligensinya rendah,biasanya
kurang lancar dalam berbicara,karena kurang memiliki kekayaan perbendaharaan
kata dan bahasa yang baik. Cara berbicaranya terputus-putus, bahkan antara kata
yangsatu dengan yang lainnya tidak/kurang relavansi.Sebaliknya dengan yang
memiliki intelingensi tinggi.
Masalah komunikasi akan muncul
apabila orang yg berinteligensi tinngi tidak mampu beradaptasi dengan orang
yang berinteligensi rendah, misalnya dalam pemilihan penggunaan kata-kata
.Contoh : Ada seseorang yang berinteligensi tinggi sehingga ia mampu menguasai
banyak perbendaharaan kata-kata asing. Saat berbicara dengan berinteligensi
rendah, ia menggunakan kata-kata asing tersebut sehingga sulit dipahami orang
yang berinteligensi rendah tadi karena memang pendaharaan kata-katanya sangat
terbatas.
2.
Faktor Budaya
Setiap budaya memiliki bahasa yang berbeda.
Apabila Orang yang berkomunikasi Mempertahankan bahasa daerahnya masing-masing,
maka pembicaraan mereka menjadi tidak efektif. Akibatnya komunikasimenjadi
terhambat atau bahkant imbul kesalah pahaman di antara mereka.
Faktor perbedaan cara berkomunikasi
juga menghambat komunikasi. Sebagai contoh: orang Batak biasa berbicara keras
dari pada orang Jawa atau Sunda. Bila orang Jawa atau Sunda merasa tersinggung
dan menganggap orang batak tidak sopan, maka akan terjadi antipati dari orang
Jawa atau Sunda tersebut kepada orang Batak
sehingga tidak terjadi jalinan komunikasi.
3.
Faktor Pengetahuan
Makin luas pengetahuan yang
dimiliki seseorang maka makin banyak perbendaharaan kata yang dapat mendorong
yang bersangkutan untuk berbicara lebih lancar.
Apabila orang-orang yang berbeda
penghetahuan saling berkomunikasi tanpa
melihat perbedaan pengetahuan diantara
mereka, maka tidak akan terjadi komunikasi yang mengenakkan bagi mereka berdua.
Hal ini terjadi ketika seorang
berbicara sesuai dengan pengetahuannya tanpa menjelaskan dengan detail, maka
seorang yang lain tidak paham apa yang dimaksud
lawan berbicaranya. Misalnya seorang insinyur sedang berbicara dengan
seorang dokter. Dokter tersebut menjelaskan penyakit yang dideritasi insinyur
dengan menggunakan istilah-istilah kedokteran. Bila penjelasan dokter tersebut tidak detail dan
runtut serta menggunakan bahasa yang lebih umum maka si insinyur tersebut tidak
akan paham maksud si dokter.
4.
Faktor Kepribadian
Orang yang memiliki sifat pemalu dan kurang
pergaulan, biasanya kurang lancar berbicara. Hal ini disebabkan ia tidak
terbiasa komunikasi dengan orang lain. Ia tidak memiliki pengetahuan yang luas karena kurangnya pergaulan
tersebut. Pemahaman dia mengenai sesuatu hal sangat minim sehingga tidak menyambung
dengan teman-temannya.
5.
Faktor Biologis
Kelumpuhan organ berbicara dapat menimbulkan
kelainan-kelainan, seperti :
·
Sulit mengatakan desis (lipsting) kareana ada kelainan
pada rahang, bibir dan lidah
·
Berbicara tidak jelas (slurimg), yang disebabkan bibir (sumbing), rahang, lidah tidak aktif.
6.
Faktor Pengalaman
Makin banyak pengalaman yang dimiliki
seseorang, makin terbiasa ia menghadapi sesuatu. Orangsering menghadapi masa,
sering berbicara di muka umum, akan lancar berbicara dalam keadaan apapun
dengan siapun. Seorang pembicara atau MC terbiasa didepan orang
banyak.Namun seorang penyiar radio,belum
tentu mampu ketika di tugaskan sebagai MC,karena pekerjaannya tidak menututnya
harus berhadapan dengan orang banyak. Walaupun di balikperalatan audio
visual dan telepon ia biasa berbicara
dengan pendengar, namun ia tidak berhadapan langsung dengan pendengar.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Komunikasi verbal tersebut dipergunakan manusia guna
mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau maksud merek,
menyampaikan fakta, data, serta informasi dan menjelaskannya. Dalam komunikasi
verbal itu bahasa memegang peranan penting. Bahasa yang digunakan seseorang
biasanya mengisyaratkan arti khusus yang kadang hanya dimengerti oleh komunitas
tempat individu berada.setiap individu memiliki bahasa yang berbeda-beda namun
tetap memiliki arti atau tujuan yg sama dalam berkomunikasi.
Kemaknaan dari kata, kalimat, atau
bahasa yang digunakan seseorang menjadi hal yang sangat relevan untuk dikaji
dan dimengerti oleh orang yang sedang melakukan proses komunikasi verbal.
Komunikasi secara verbal tersebut akan memberikan informasi yang cukup jelas
maknanya karena disampaikan secara langsung oleh individu.
Daftar Pustaka
Cansandra L. Book (1980),
dalam Human Communication: Principles, Contexts, and Skills,
Larry L. Barker (dalam
Deddy Mulyana,2005),
Cangara,
Hafied. (2007). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Hardiman, F.
Budi. (2009). Menuju Masyarakat
Komunikatif. Yogtakarta: Kanisius.
Hardjana,
Agus M. (2003). Komunikasi Intrapersonal
dan Interpersonal.
Herlina, Fakultas
Phisicology UPI.
S. Djuarsa
Sendjaja, Ph, D.. Drs. Tandiyo Pradekso, M. A. Dr. turnomo Rahardjo

Komentar
Posting Komentar